Sabtu, 21 Februari 2009

Kawin Beda Agama

Haram
Dalam pandangan hukum Islam, wanita Islam haram menikah atau dinikahi oleh lelaki non-muslim. Dalilnya sangat jelas.

"Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu perempuan-perempuan mukmin yang berhijrah hendaklah mereka kamu uji lebih dulu. Allah lebih mengetahui iman mereka. Jika kamu telah dapat membuktikan bahwa mereka itu benar-benar beriman, maka janganlah mereka kembalikan kepada orang-orang kafir. Mereka ini (wanita yang beriman) tidak halal bagi laki-laki kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka" (al-Mumtahanah:10)

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqush Sunnah menyebut, bahwa dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum mukminin, jika mereka didatangi oleh perempuan-perempuan yang hijrah dari Makkah ke Madinah, hendaklah mereka diuji lebih dulu. Bila terbukti benar keimanan mereka, janganlah dikembalikan kepada suami-suami mereka yang masih kafir karena wanita mukmin tidak halal buat laki-laki kafir, begitu sebaliknya. Yang dimaksud menguji adalah menanyakan motifasi mereka hijrah ke Madinah dan meninggalkan suami mereka. Apakah mereka hijrah karena cintanya kepada Allah dan Rasul serta rindu kepada Islam, atau karena sebab lain. Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa wanita beriman haram untuk dinikah atau menikah dengan laki-laki kafir (musyrik atau ahli kitab).
Maka menurut Dr. Quraish Shihab, rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, status perkawinan Ira-Katon tidak sah (Republika, 3 November 1996). Kalau tidak sah, berarti mereka sama saja tidak atau belum menikah, dong? Prof. Asjmuni Abdurrahman, ahli fikih IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menjawab tegas, ya. "Dari kacamata Islam, mereka tidak melakukan pernikahan," ujar Prof Asjmuni (Gatra, 9 November 1996). Bila mereka dari kacamata Islam tidak melakukan pernikahan, tapi tetap terus kumpul layaknya suami istri, lalu apa namanya? Zina? Apa sih, yang dimaksud dengan zina?


Zina
Sepakat para ulama, bahwa yang dimaksud dengan zina adalah hubungan kelamin laki-laki atas kelamin wanita yang tidak halal disetubuhi oleh laki-laki itu, atau tanpa ikatan pernikahan. Zina dalam Islam adalah perbuatan yang sangat dikutuk. Jangankan berzina, mendekati saja sudah dilarang.

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan merupakan jalan yang buruk" (al-Isra':32)

Untuk menghindari zina, maka Islam menurunkan sejumlah hukum yang mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan. Diantaranya, kewajiban menutup aurat (untuk wanita memakai jilbab), perintah untuk menundukkan pandangan, larangan khalwat (menyendiri dengan wanita atau laki-laki), larangan wanita bepergian kecuali dengan mahram, aturan pernikahan dan sebagainya.
Bagi yang telah berzina, tanpa ampun Islam menetapkan hukuman yang sangat keras. Dalam kejahatan pembunuhan, hukuman qishash (tuntutan nyawa atas pelaku pembunuhan) dapat dibatalkan bila ahli waris korban memberi maaf. Tapi dalam zina, tidak ada seorangpun, pemimpin negara sekalipun, yang berhak mengampuni. Hukuman harus dijatuhkan kepada kedua pelaku zina. Bila pelaku masih belum pernah nikah (ghairu muhsan), hukumannya dijilid (dipukul punggunggnya dengan suatu alat pemukul) 100 kali.

"Pezina perempuan dan pezina laki-laki, maka jilidlah keduanya masing-masing 100 kali" (al-Nuur:2)

Adapun bila pelaku zina adalah mereka yang sudah menikah atau pernah menikah (muhsan), hukumannya adalah dirajam sampai mati. Hal ini didasarkan pada banyak hadits, diantaranya menceritakan bahwa Rasulullah merajam Maiz, setelah ia mengaku berzina.
Bagaimana bila pelaku zina itu bukan orang Islam? Mereka tetap saja dijilid atau dirajam. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari Muslim, diceritakan bahwa Rasulullah pernah merajam orang Yahudi.


Keluarga Sakinah
Bisa dipastikan bahwa setiap orang yang menikah ingin merasakan kebahagiaan. Berbagai cara, bahkan kadang yang bertentangan dengan tuntunan agama yang dipeluknya pun, ia tempuh. Dengan cara itu mungkin ia memang bisa merasakan kebahagiaan, tapi kebahagiaan yang begitu biasanya sifatnya hanyalah sementara. Selebihnya, ia mulai dihinggapi berbagai persoalan keluarga yang silih berganti, kait mengait seperti benang kusut yang sulit diurai. Hasilnya adalah kesedihan, duka dan air mata.
Sebagai agama yang diturunkan Allah Sang Pencipta, Islam telah memberikan tuntunan yang sangat jelas. Bahwa dasar yang utama, bahkan satu-satunya dasar, pernikahan yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat adalah agama (Islam). Dalam mencari pasangan, Rasulullah menuntunkan agar lebih memperhatikan kualitas agama calon pasangannya.

"Perempuan itu dikawini karena empat perkara, karena kecantikannya, atau karena keturunannya, atau karena hartanya atau karena agamanya. Maka pilihlah yang karena agamanya. Niscaya engkau akan bahagia" (HR. Bukhari Muslim)

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali, "Saya punya seorang putri. Siapakah kiranya yang patut jadi suaminya menurut Anda?". Jawab Hasan bin Ali, "Seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah (muslim). Sebab jika ia senang, ia akan sudi menghormatinya dan jika ia sedang marah, ia tak suka berbuat zalim kepada istrinya". Tentang kriteria seorang calon suami, Ibnu Taimiyyah berkata, "Laki-laki yang selalu berbuat dosa tidak patut dijadikan suami". Seorang yang beragama selain Islam, di mata Allah, adalah orang yang hidup senantiasa bergelimang dosa.
Jelaslah, kata kuncinya adalah agama, karena ia akan senantiasa menghiasi setiap sisi kehidupan keluarga. Dengan agama, orang akan memiliki kepribadian yang teguh, dan sebuah keluarga akan memiliki pijakan yang kokoh, tempat kembali segala persoalan. Tanpa agama, sebuah keluarga akan berjalan bagai biduk berlayar tanpa arah. Dan agama yang dimaksud tentu saja adalah agama Islam yang dipeluk dengan sebaik-baiknya baik oleh istri maupun suami.
Bagaimana bila suami-istri beda agama? Selain dosa dan ancaman hukuman yang semestinya ia tanggung, Prof. Dr. Dadang Hawari dalam buku Ilmu Jiwa al-Qur'an (1996) menyatakan bahwa dari pengalaman praktek konsultasi perkawinan yang ia lakukan menunjukkan bahwa pada kasus perkawinan beda agama, ternyata masing-masing pasangan bukannya semakin bertambah keimanan terhadap agama mereka masing-masing, tapi yang terjadi sebaliknya semakin lemah. Sementara keluarga yang lemah agamanya mempunyai risiko 4 kali lebih besar menjadi keluarga yang rusak (broken home), ketimbang keluarga yang kuat agamanya.
Ini dapat dijelaskan dari kaca mata psikologi perkawinan, bahwa perkawinan yang langgeng salah satunya ditentukan akan faktor kesamaan. Semakin banyak kesamaan antara suami istri (pendidikan, latar belakang keluarga terutama dari segi agama), maka perkawinan itu akan semakin baik. Bila keduanya menyadari bahwa terdapat banyak perbedaan, maka untuk mempertahankan biduk pernikahan, keduanya harus mau saling menenggang dengan cara melepaskan sebagian pada titik-titik perbedaan itu. Bila hal yang berbeda adalah agama, maka demi kelangsungan pernikahan, mereka akan cenderung untuk melepaskan sebagian kecil atau besar dari prinsip-prinsip agama masing-masing agar di dalam keluarga tercipta suasana keriangan yang mereka inginkan, dimana itu tidak mukin dicapai bila masing-masing bersikukuh dengan prinsip agama masing-masing. Dari itu maka sangat wajar bila terdapat kecenderungan, bahwa keluarga pasangan beda agama tidaklah terlalu memperhatikan agama, termasuk ketika mereka mendidik anak. Jadilah keluarga itu, keluarga yang tipis rasa keagamaannya. Padahal, tanpa agama bagaimana sebuah keluarga bisa merasa bahagia?
Kembali ke Ira. Bila hukumnya sudah tahu dilarang, para ulama juga sudah memberikan penilaiannya secara tegas, konsekuensi hukuman yang harus ditanggung pun juga sangat berat karena status hubungan itu seperti zina seumur-umur, lalu secara empirik, menurut Prof. Dadang Hawari, juga sudah membuktikan sulit membentuk keluarga ideal dari pasangan yang beda agama, belum lagi dosa yang harus ditanggung di akherat kelak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar